Sabtu, 09 Mei 2015

Senja di Kota Atlas


Oleh Bunga Zahrana

Kala itu aku masih bermimpi, bermimpi dapat hidup bahagia bersamamu. Aku tak pernah tahu sejak kapan cinta ini mulai tumbuh merayu-rayu untuk selalu merindumu. Siang malam bayangmu tak pernah mau pergi dari ingatanku. Kadang aku berpikir, sudah sedewasa ini kenapa masih saja aku seperti anak SMP yang baru merasakan jatuh cinta. Atau memang sepert ini orang yang sedang jatuh cinta? Tak mempedulikan usia.
Reihan,,, kenapa namamu tak mau pergi dari ingatanku? Kau tau betapa tersiksanya aku karena namamu tak mau pergi dari ruang kecil ini. Pertemuan itu telah menyisakan sebuah bayangan yang seakan-akan betah menghantuiku. Usia kami tak beda jauh, mungkin hanya beberapa bulan. Akan tetapi dia lebih dahulu belajar di bangku sekolah setahun di atasku. Kami memang belum pernah bertemu lagi kecuali beberapa tahun lalu saat kami sama-sama duduk di bangku SD. Tapi pagi itu sepertinya Tuhan punya sebuah rencana sehingga mempertemukan kita dalam sebuah kesempatan. Tuhan, aku tak dapat memungkiri jika senyumnya pagi itu sangat membekas di ingatanku. Mungkinkah aku mencintainya? Atau ini hanya sebuah nafsu belaka yang sedang menguasaiku?.
Di saat aku masih bertanya-tanya tentang perasaan apa yang sedang menjalariku ini, aku harus mengetahui bahwa dia sudah memiliki seorang kekasih yang katanya sangat dia cintai. Aku tak tahu harus merasa sedih atau bahagia, karena nyatanya air mataku lah yang menjawabnya.
“ Sudahlah dik, mungkin dia tak baik untukmu. Allah lebih tahu mana yang pantas untukmu”. Lagi-lagi kata-kata yunda yang selalu membuatku sadar, bahwa dia bukan apa-apa buatku.
Mungkin benar apa yang dikatakan yunda, dia bahkan bukan siapa-siapaku. Kenapa aku harus bersedih mendengar berita itu, tapi aku juga tak mampu memungkiri kalau aku ingin menangis. Tuhan maafkan daku, tapi cinta ini takkan melebihi cintaku terhadapMu.
***
Aku adalah seorang mahasiswi jurusan bahasa indonesia di perguruan tinggi terkemuka di Semarang. Reihan,,, kenapa aku tak mampu melupakanmu?. Sepulang kuliyah aku sengaja menyempatkan diri duduk-duduk sejenak di tepi pantai. Senja kala ini terasa sejuk ku rasakan. Semburat merah orange nya mengundang takjub bagi siapa saja yang menikmatinya. Semilir angin tak kalah seru mengajakku semakin hanyut dalam suasana sore ini. Aku semakin terbawa dalam buaian lembut perpaudan antara semilir angin dan keindahan pantai Marina ketika sore hari. Meskipun pantai ini tak seindah pantai-pantai di pantai selatan, namun aku tetap suka berkunjung ke sini. Terutama ketika sedang merasa panat setelah pulang kuliyah. Jarak antara kampus dengan pantai sangatlah tidak dekat, bahkan dapat dikatakan jauh. Namun bukan aku namanya kalau tidak nekat. Aku selalu bisa melakukan hal-hal yang menurut orang lain aneh. Tetapi bagiku, selama aku bahagia kenapa tidak???.
***
Aku semakin larut dalam senja, sehingga kakiku saja tak ingin untuk beranjak dari tempat ini. Pikiranku semakin tenggelam, membuatku tak beranjak-beranjak dari bibir pantai Marina. Hingga sebuah getar hp tiba-tiba mengusik keasyikanku.
Din, segera ke RS. Karyadi ya,,, yunda masuk UGD.
Sebuah pesan singkat dari Mbak Lili membuatku sedikit panik. Tanpa pikir panjang aku langsung menuju motor, dan melaju dengan kecepatan ekstra menuju rumh sakit.
            Sesampai di sana telah ku dapati yunda yang terbaring di UGD antri untuk segera ditangani. Betapa menyedihkannya keadaan yunda saat itu. Ku hingga tak berani berkata-kata. Andai sakit itu dapat dibagi, aku rela ikut merasakannya. Agar yunda tak merasakan sakit yang separah ini. Dia terus saja memegangi perutnya, meski aku tahu sebenarnya yunda sudah setengah sadar. Aku hanya bisa menungguinya dari samping sambil membisikkan kata sabar dan meminta yunda untuk selalu istighfar.
Setelah beberapa menit menunggu, akhirnya yunda ditangani juga oleh pihak medis. Selesai ditangani yunda dipindah ke sebuah ruangan. Di ruangan terdapat 4 tempat tidur dimana hanya baru satu tempat tidur yang ditiduri oleh satu pasien. Aku memutuskan untuk menunggui yunda malam ini bersama Mbak Lili. Sedangkan yang lain kami minta untuk pulang, dan ada yang mengambilkan baju ganti untuk kami mengingat kondisi sudah malam.
Tak lama datang beberapa lelaki menjenguk yunda. Sepertinya mereka adalah teman-teman satu jurusan Yunda.
“ bagaimana keadaan Sinta?” tanya salah seorang dari mereka, yang baru aku tahu namanya adalah Edwin.
“ sudah ditangani oleh dokter, hasil lab baru keluar dua hari lagi. Dan sekarang alhamdulillah yunda sudah bisa istirahat.” Jawabku.
Mereka juga memutuskan untuk menunggui Yunda. Alhamdulillah, setidaknya di sini kami tidak terlalu kesepian karena yang menunggui hanya kami berdua. Mas Edwin memberikan kami makanan.
“ nih makanan, lumayan bisa ngganjel perut kalian. Sepertinya kalian sedang kelaparan.” Kata Edwin sambil tersenyum.
“ makasih” kataku.
Berbicara tentang senyum. Kau tahu??? Ada yang beda dengan senyum Edwin. Aku tak tahu itu apa. Awalnya aku hanya mengira kalau senyumnya manis, bahkan sangat manis. Namun lama-lama aku baru sadar, ada sesuatu yang berbeda. Senyum yang belum pernah aku dapatkan dari lelaki manapun. Boleh dibilang Edwin itu termasuk lelaki dengan paras yang lumayan menarik. Wajahnya ganteng, senyumnya manis dengan berhias lesung pipit di kedua pipinya.
***
Merasa penat dan gerah, aku memutuskan untuk keluar sebentar dari kamar.
“ Mbak, Dinda keluar dulu ya. Aku sedikit sesak di sini. Ya jujur saja sebenarnya aku kurang suka dengan suasana rumah sakit.hehehe” kataku nyengir.
“ iya Din, biar mbak yang jaga yunda. Lagian tuh banyak temen-temen yunda sama mbak kok yang iku jaga” kata Mbak Lili.
Mbak Lili adalah teman sekelas yunda, sekaligus teman kos kami. Hubungan kami sangat dekat, bahkan sudah seperti saudara sendiri.
            Melihatku keluar Edwin langsung bertanya, dari beberapa teman Mbak Lili tersebut memang hanya Edwin yang paling perhatian.
            “ Kamu mau kemana Din?” tanya Edwin.
            “ hehe keluar sebentar mas, nyari udara.” Jawabku.
            “ berani sendiri?” tanyanya lagi.
            “ Loh, emang kenapa mas?” tanyaku heran, aku sebenarnya tahu apa yang dimaksud Edwin, tetapi berpura-pura aja. Hehehe
            “ Sini aku temenin, sekalian nanti nyari minum buat yang ada di sini.” Kata Edwin.
Aku hanya mengangkat bahu dan tersenyum, menandakan mengiyakan permintaan Edwin.
Empat hari dirawat di rumah sakit, akhirnya yunda sudah diperbolehkan untuk pulang. Senyum itu aku temukan kembali, senyum yang beberapa hari lalu sempat hilang direnggut rasa sakit yang diderita yunda. Kebahagiaannya adalah kebahagiaanku juga. Dia sudah menjadi bagian dari hidupku, seperti itulah arti penting dia dalam hidupku.
***
Senja masih sama aku rasakan. Namun kali ini berbeda, Reihan mengajakku bertemu di Pantai. Sore ini, aku menikmati senja tak hanya sendiri. Saat ini, aku menikmati senja bersama orang yang selama ini sangat aku inginkan. Inginkan??? Mungkinkah sekarang keinginan itu masih ada?. Kenapa dengan hatiku? Seperti ada gejolak lain. Semburat merah orange masih setia mewarnai senja di atas sana, sepertinya ia tak kenal lelah dan bosan. Tetapi cintaku untuk Reihan, mungkinkah ia sudah lelah? Sehingga derunya sudah tak sekencang dulu.
“ Aku putus Din.” Ucap Reihan membuka pembicaraan sore ini.
Reihan putus? Haruskah aku bahagia? Terlihat sekali kesedihan tergurat di wajahnya. Sedalam itukah cinta Reihan kepada sang pujaan hatinya tersebut. Ah,,, beruntung sekali wanita itu. Tetapi aku sama sekali tak merasakan bahagia. Aku justru merasa kasihan dengan keadaan Reihan saat ini.
            Tunggu dulu, terus kenapa Reihan mengajakku bertemu di sini?.
            “ Aku ikut sedih mas,,,” kataku prihatin.
Reihan hanya mengangguk pelan, sambil sesekali menatapku.
            “ lalu kenapa mas mengajakku bertemu di sini dan menceritakan hal ini kepadaku mas?” tanyaku.
Diam,,, sejenak dia terdiam. Sepertinya dia sedang berpikir.
            “ Kau adalah orang yang selama ini peduli terhadapku Din. Aku hanya ingin berbagi, ya intinya curhatlah pada kamu. Kamu nggak keberatankan?” jawabnya.
            “ Tentu tidak mas, aku malah sangat bahagia sudah mas percaya untuk berbagi kisah mas tersebut.” Kataku.
Hah,,, jujur saja tadi aku sangat berharap. Berharap apa? Tentu kalian pahamlah. Berharap Reihan bisa berpaling padaku. Hmmm jahat banget ya aku?.
Cinta terkadang memang bisa membuat pelakunya tega melakukan apapun, termasuk untuk hal menyakiti atau bahkan curang. Tetapi aku tidak, selama ini aku sangat bersabar menunggu balas dari Reihan. Mungkin ini memang kesempatan emas untukku. Tapi aku tak tega, semoga dengan dia bercerita terhadapku bebannya bisa berkurang.
“ Mas,,, percayalah Tuhan punya rencana yang indah untuk mas. Dia pasti sudah mempersiapkan seseorang yang jauh lebih baik untuk mas.” Aku kembali membuka pembicaraan.
“ Kamu benar Din.” Jawabnya pelan.
Sekali lagi pandangannya tertuju ke depan. Kosong. Reihan,,, apa yang membuatmu secinta ini terhadapnya? Apakah aku bisa menjadi wanita tersebut? Kenapa dulu kau lebih dulu bertemu dengannya?. Pertanyaan-pertanyaan itu hanya bisa aku lontarkan di dalam hati. Berharap sesuatu yang tak mungkin terjadi. Ah,,, mungkin aku terlalu berharap.
***
Sore ini aku diajak yunda ke kampus bertemu dengan teman-teman sekelasnya. Empat hari dirawat di rumah sakit membuat dia ketinggalan banyak materi, sehingga dia ingin meminjam catatan dan menanyakan tugas apa saja yang sudah diberikan dosen. Otomatis di sana juga ada Edwin.
Bertemu dengannya kembali. Ku pikir keganjilan dulu hanya perasaan aneh sesaat. Tetapi ternyata salah. Ada desiran yang berbeda yang mengaliri tubuhku saat ini. Aku mulai gugup saat langkah kakinya semakin mendekat ke arah yunda dan aku. Dari kejauhan bau aroma tubuh Edwin sudah menusuk-nusuk ke hidungku. Aroma wangi khas Edwin, duh Tuhan... Aroma parfumnya saja aku sampai hafal. 
“ Udah sehat betul belum Sin” tanya Edwin
“ Alhamdulillah Win” jawab yunda
“ Eh,,, Dinda juga ikut. Apa kabar Din?”
Aku terkekeh, tiba-tiba merasa gugup. Jantungku semakin cepat berdetak. Rasanya pengen sekali lari dari sana. Tapi apa alasanku lari? Cuma karena ingin menutupi kegugupanku? Ah semoga Edwin tidak menyadari kegugupanku.
            “ Alhamdulillah sae Mas Edwin.” Jawabku. Akhirnya kata itu bisa keluar juga meski harus ku paksa-paksa.
            “ Yunda, Dinda pamit sebentar ya mau ke MIPA. Nanti kalau udah selesai sms aja, aku ke sini lagi”. Yunda hanya menanggapi dengan senyuman dan anggukan.
            “ Loh Din, di sini aja. Kok malah ninggalin aku.” Tanya Edwin.
            “ Hehe Cuma bentar mas, lagi ada perlu.”
            “ Sin, Dina cantik ya? Aku boleh nggak deketin adik kamu itu. Boleh ya? Janji deh bakal bahagiain dia.” Kata Edwin setelah aku pergi.
***
Sepulang dari kampus yunda menceritakan kepadaku akan hal tersebut.
“ Terus Yunda jawab apa?” tanyaku bersemangat.
Tiba-tiba yunda mengamati wajahku. Sepertinya dia sudah mulai curiga.
            “ Ada dengan ekspresimu Dinda? Sepertinya kau riang sekali mendengarkan itu?”
            “ Aku kenapa yunda?” tanyaku
            “ Kamu juga suka sama Edwin nduk?”
Lama,,, tak ada suara. Sunyi. Hingga akhirnya,,,,
            “ Aku juga nggak tahu yunda. Yunda juga tahu kan, aku sangat cinta Reihan. Apa mungkin secepat ini aku berpindah ke hati lain? Aku juga belum cerita ya sama yunda. Reihan putus dari pacarnya yun. Dan orang pertama yang ia beri tahu adalah aku.”
            “ kapan Reihan putus?” tanya yunda
            “ sudah satu minggu. Wajahnya terlihat sekali sedang kehilangan yunda. Hatiku ikut hancur melihat betapa dia mencintai kekasihnya itu. Sepertinya dia benar-benar sangat mencintai mantan kekasihnya itu yunda.”
            “ Sudahlah dik, lupakan saja Reihan. Jujur saja mbak nggak suka kamu dekat dengan Reihan.” Kata yunda
            “ Kenapa yunda? Dia sangat baik.”
            “ Enggak tahu kenapa. Mbak rasa dia nggak baik buat kamu.”
Ada yang mengganjal di hatiku. Kenapa yunda berkata seperti itu? Reihan sangat baik, tampan, kalem, sholih pula, terus apa yang diragukan oleh yunda.
            “ yunda lebih suka kalau kamu sama Edwin saja Dinda. Dia baik, yunda sudah mengenalnya dengan sangat baik.”
            “ Edwin memang baik yunda, tetapi yunda kan tahu siapa yang ada di hatiku”.
            Perkataan yunda terus saja terngiang-ngiang di kepalaku. Aku sangat mencintai Reihan, tetapi kenapa yunda sangat tidak setuju dengan perasaanku tersebut?.

***

            Ada yang berbeda dengan pemandangan sore ini di pantai. Tidak ada semburat warna merah orange di langit, tidak ada burung-burung yang terbang di angkasa. Sore ini langit benar-benar tertutup awan. Kepulannya menyelimuti kecantikan senja seperti biasanya. Aku hanya bisa memainkan kakiku sembari duduk di gazebo di pinggir pantai. Sepertinya langit mendung, ah ini mas bukan sepertinya lagi. Langit memang benar-benar mendung, sebentar lagi juga pasti hujan akan turun. Namun sosok yang sedari tadi aku tunggu-tunggu tak kunjung datang. Dengan sabar ku tunggu pangeranku tersebut.
            Sore ini Reihan mengajakku bertemu di pantai. Katanya ada perihal penting yang ingin dia sampaikan untukku. Sebenarnya aku sedikit gugup menghadapi pertemuan sore ini. Tapi rasa penasaranku mengalahkan degup jantung yang semakin kencang ini. Oh Dinda,,, kau tak boleh GR dulu, mungkin saja ada hal lain yang ingin dia bicarakan.
            Langit semakin gelap, sepertinya sebentar lagi adzan magrib akan berkumandang. Namun kenapa kehadirannya tak ua aku rasakan. Kenapa dia tak juga datang? Apa dia lupa dengan pertemuan sore ini, bukankah dia sendiri yang mengajakku bertemu?. Perasaan kecewa langsung menerkamku. Sejahat itukah kamu kepadaku Reihan? Aku rela menunggumu di tengah hujan, aku harus menahan dingin dan angin yang siap menerpaku.
            Semakin penasaran, akhirnya ku ambil hp di sakuku. Ada satu pesan masuk. Deg,,, pas ku buka ternyata dari Reihan.

            Reihan
            Dinda, maaf ya aku tak bisa ke sana,,, tiba-tiba Sari menelpon dan memintaku datang ke tempatnya. Maaf banget,,, lain kali biar aku yang main ke tempatmu saja. Sungguh aku menyesal, tapi aku juga nggak mungkin menolak permintaan Sari.
Air mataku jatuh tak mampu ku bendung lagi. Setega inikah kau padaku Reihan. Setidak pentingkah diriku ini untukmu. Ku kira kau sudah lupa dengan wanita yang sempat merenggut kebahagiaanmu itu. Kau bodohi aku yang sudah buta karena cintaku.
Aku tak membalas. Terserah, perasaanku sudah sangat hancur. Oh Tuhan,,, maafkan aku. Aku tak pernah menangis karenaMu, tapi aku menangis sehebat ini hanya karena cintaku kepada makhlukMu.

***

Semua kejadian bodoh itu sudah aku lupakan. Tentu saja, aku adalah tipe orang yang mudah sekali memaafkan kesalahan orang lain. Sebesar apapun orang itu menyakitiku. Akupun sudah memafkan semua yang telah dilakukan Reihan terhadapku. Beribu kata maaf dia ucapkan untukku. Namun rasa sakitku itu benar-benar membuatku sudah tak ingin lagi bertemu dengannya.
Reihan
Din, please maafkan aku. Aku benar-benar menyesal tlah melupakanmu waktu itu. Kau tahu apa yang sebenarnya ingin aku katakan padamu? Aku menyayangimu Dinda. Aku ingin menjadi kekasihmu. Tapi keadaan Sari sore itu benar-benar membutuhkan pertolongan. Please maafkan aku.
Sudah terlambat Reihan. Mulai dari sore itu aku sudah memutuan untuk mengubur dalam-dalam cintaku. Bukannya aku menyerah dengan keadaan. Tapi memang benar kata yunda. Kau memang baik, tapi kau tak baik untukku.
            Semenjak peristiwa sore itu aku memang sudah tak mau lagi bertemu dengannya. Mataku tidak akan mampu menatap matanya lagi. Ah Reihan,,, biarkan ku kubur dalam-dalam cintaku ini. Sudah saatnya aku mencari kebahagiaanku sendiri. Maaf, bukannya aku egois. tapi karena aku tahu, aku nggak akan pernah benar-benar berada dalam hatimu. Aku tak ingin berada dalam bayang-bayang sari, mantan yang sangat kau cintai itu.
Aku adalah apa yang kau rindu, tapi aku tahu aku bukanlah rumah bagimu. Bagimu aku hanyalah tempat singgah sementara dari kisah lainmu. Aku tahu aku tak pernah berada dalam hatimu, aku hanyalah pelarian sesaat ketika kamu terluka. Asal kau tahu, aku adalah waktu yang setiap saat selalu ada untukmu. Meski aku tahu aku akan kau tohok dengan asmaramu.
***
            “ Dinda,,, dapat salam dari Edwin.” Kata yunda.
            “ Haaaaa,,, Mas Edwin?” kataku setengah kaget
            “ Ciye,,, “ kata anak-anak kos berbarengan.
            “ Ah kalian,,, Dinda kan nggak pengen pacaran. Pengalaman kemarin sudah cukup menjadi pelajaran hidup untuk Dinda.” Ucapku kesal
            “ Hahahaha,,, bentar lagi juga pasti jadian tuh sama Mas Edwin.” Celetuk Difa.
Aku hanya manyun menanggapi ocehan-ocehan mereka. Seberapa keras aku membantah tetap saja aku kalah, secara satu lawan anak se kos. Tetapi aku sangat menyayangi mereka. Mereka yang selalu ada saat aku terpuruk seperti kemarin.

***
            Weekend, Lagi-lagi Reihan membujukku untuk bertemu. Kali ini dia rela menjemputku ke kos. Bisa apa aku untuk menolak. Akhirnya akupun mengikuti kemanapun dia mengajakku pergi. Di dalam perjalanan aku sudah pasrah kemanapun aku akan dia ajak pergi. Namun siapa sangka, lagi-lagi pantai ini. Pantai Marina dan senja.
            Sedangkan di kos, ternyata Edwin juga sedang menjemputku. Astaga,,, aku lupa aku juga punya janji dengan Edwin. Setelah diberi tahu dengan keberadaanku oleh yunda, akhirnya dia menyusulku bersama dengan yunda.
            “ Rei, bisakah kita Cuma sebentar di sini? Aku ada janji sore ini. Aku lupa bilang kepadamu tadi.” Kataku sedikit ragu.
Dia mengernyitkan dahinya.
            “ Pentingkah?” tanyanya.
Aku hanya mengangguk.
            “ Din, aku nggak akan lama kok. Aku cuma mau bertanya padamu. Apakah aku masih ada di dalam hatimu?” tanya Reihan
Aku terdiam, bibirku kelu. Aku tak tahu harus menjawab apa kepada Reihan. Rasa sakit kemarin sudah benar-benar menyadarkanku.
            “ Kenapa diam saja?”
            “ Rei,,, kenapa pertanyaan itu lagi. Aku sudah lelah. Aku sudah tak ingin berurusan dengan yang namanya hati.” Jawabku ragu.
Reihan tertunduk. Senja bahkan tak seindah biasanya. Semburat merah orange terasa hambar aku rasakan. Sentuhan-sentuhan semilir anginpun seperti mengusikku, menggeretku mengajak untuk segera beranjak dari tempat ini.
            “ Din, aku sangat menyayangimu.”
            “ Jangan bohongi perasaanmu Rei. Aku tahu yang ada di dalam hatimu hanya Sari dan Cuma Sari. Sudahlah jangan jadikan aku pelarianmu.” Kataku.
            “ Bukankah dulu kau sangat mencintaiku Din?” tanyanya sekali lagi.
Kali ini matanya benar-benar menatapku.
            “ Itu dulu Rei, jangan samakan dulu dengan sekarang. Jangan lagi-lagi kau siksa aku dengan cinta palsumu itu.” Kini aku yang menangis, aku sudah tak mampu lagi membendung air mata yang semakin lama semakin banyak ini.
            “ Aku sangat menyayangimu Dinda.” Katanya lirih.
Di sudut ke dua mata Reihan pun tersembunyi sebulir butiran bening. Namun dia sangat lihai menyembunyikan perasaannya. Ah,,, toh aku uga nggak tahu apa yang benar-benar ada dalam pikirannya.
            Tiba-tiba hp ku berbunyi.
Suara Difa. Mengabarkan Edwin dan yunda mengalami kecelakaan ketika ingin menyusulku ke pantai. Tanpa berpikir panjang, ku tinggalkan Reihan yang sedang meratap sendirian.
            “ Maaf Rei, aku pergi dulu.”
Aku kalut,,, Yunda,,, Edwin,,, dua orang yang sangat aku cintai. Ya,, akhirnya aku mengakui bahwa hatiku sudah tertambat pada pria sederhana tersebut. Kami jadi sering sms-an, bbm-an, bahkan telpon-telponan. Seluruh penghuni kos juga tahu dengan kegiatan baruku itu. Edwin selalu ada untukku.
***
            Tak membutuhkan waktu lama bagiku untuk menuju ke rumah sakit. Entah sedang beruntung atau memang waktu sedang berpihak padaku. Aku bisa sampai ke rumah sakit dengan lancar.
Aku langsung menuju ke ruang ICU. Di sana sudah ada beberapa anak kos dan yunda yang terduduk di kursi. Wajahnya tersenyum setelah melihatku.
“ Yunda nggak apa-apakan?” tanyaku sambil memeluk tubuhnya.
“ nggak apa-apa sayang.”
“ Mas Edwin gimana yunda?” tanyaku cemas.
            “ belum sadar sayang, tapi insyaallah nggak apa-apa. Benar-benar ada keajaiban sore ini. Sayang,,, Edwin sayang menyayangimu nduk.”
Aku mengangguk, sambil menangis di pelukan yunda.
            “ Aku sudah memutuskan untuk tidak berhubungan lagi dengan Reihan yunda. Mungkin kalau hanya sekedar berteman aku masih bisa menerimanya.”
Yunda tersenyum dan kembali memelukku, erat.
            “ Keluarga Mas Edwin...” panggil dokter yang muncul dari ruang ICU.
            “ Iya dok, kami keluarganya.”
            “ Alhamdulillah saudara sudah sadar, dan tak terjadi apa-apa dengan beliau. Hanya sedikikt luka di kakinya.” Kata doker.
Tanpa meminta ijin dari dokter aku langsung nyeloning masuk ke dalam ruang ICU. Di sana kudapati Edwin yang sedang terbaring di atas tempat tidur pasien. Puji syukurku Tuhan,,, senyum itu masih bisa aku nikmati. Bibirnya tersenyum melihatku berhamburan menuju ke tempat tidurnya.
            “ I Love You,,,” ucapnya
            “ Mas Edwin sakit sempat-sempatnya mengatakan kalimat itu.” Celetukku
            “ hahahahahahhaa”
            “ loh kok malah ketawa?” kataku sedikit kesal, melihat dia tertawa padahal dia sedang menahan sakit.
            “ Boleh minta sesuatu nggak? Satu aja,,,”
            “ Apa mas?, apapun pasti ku kabulkan.”
            “ peluk aku dengan hatimu Dinda.”
Air mataku tumpah,,, aku mengangguk pelan kemudian benar-benar memeluknya. Pelukan terhangat yang aku rasakan. Bukan dari Reihan, pria yang sudah lama sangat aku cintai. Melainkan dari Edwin, meskipun tak selama aku mengenal Reihan, tetapi Edwin benar-benar sudah mampu membuktikan keseriusannya dalam ingin memilikiku. Ku tumpahkan semua air mataku dalam pelukan Edwin. Dari luar yunda hanya tersenyum melihat kami berdua.
Sakit karena gagal cinta tak membuatku untuk merasakan indahnya cinta kembali. Ingatlah,,, kebahagiaanmu takkan hilang hanya karena satu hati yang tak pernah memberimu kepastian. Tataplah, diluar sana masih banyak wajah-wajah berseri yang selalu siap menyambutmu. Dialah sahabatmu. Bersabarlah,,, karena Tuhan akan memberimu pasangan yang terbaik menurutNya. Cinta ini terasa indah ku rasakan, karena aku yakin telah ku labuhkan perahu cintaku pada dermaga yang tepat. Ya,,, hati Edwinlah dermaga yang tepat untuk kulabuhkan hati dan cinta ini.
           
The End


Jumat, 27 Maret 2015

Kau, Cinta Pertamaku



Masa itu, adalah masa terindah yang pernah aku alami. Tetapi satu, jika aq disuruh untuk kembali ke masa-masa itu mungkin aku takkan pernah mau. Bukannya aku kapok untuk merasakan lagi yang namanya jatuh cinta, karena nyatanya untuk yang ke dua kalinya aku jatuh cinta padanya. Mahendra. Dialah yang membuatku paham apa itu cinta, apa itu rindu, dan apa itu kecewa. Karena dia, aku mengerti semua tentang yang namanya jatuh cinta.
Awalnya aku tak tahu siapa dia, tapi teman-teman sekelasku rame memperbincangkan tentangnya. Aku adalah tipe cewek super cuek yang tak mudah bergaul dengan makhluk yang namanya lelaki. Bahkan aku tak punya satupun teman lelaki. Namun siapa sangka pertemuan itu membuatku tak mengerti. Ada getaran beda yang ku rasakan, aku tak mengerti karena sepertinya aku terlalu dini merasakan yang namanya jatuh cinta. Ya,,, secara waktu itu aku baru masuk kelas 1 SMP. Awal pertemuan itu saat istirahat setelah pelajaran pertama (aku bahkan nggak menyangka sampai saat ini masih bisa mengingat dan merasakannya), saat kami sama-sama berjalan di koridor sekolah namun dalam arah yang berbeda. Ketika aku sedang asyik ngobrol dengan temanku tanpa melihat ke depan tiba-tiba dia menabrakku. Dia hanya tersenyum, berhubung aku menghargai karena dia adalah kakak kelasku maka aku berbalik membalasnya dengan senyuman pula. Aku nggak mengerti dan aku nggak paham, bahkan percaya atau tidak percaya senyumannya langsung ngena di hatiku. Tak lama dia langsung berlalu.
“ Eh Mahendra,,,” kata Nur setengah berbisik kepadaku
“ Oh itu toh yang namanya Mahendra” aku hanya membalasnya dengan simpel.
Padahal siapa tahu isi hatiku sebenarnya, debaran itu masih bisa aku rasakan, sampai di rumah, sampai malam, bahkan sampai-sampai aku berharap supaya pagi cepat tiba agar aku bisa segera ke sekolah dan melihatnya lagi. Terlalu cepat pula perasaan itu merasuki hatiku, tapi aku tak pernah berani mengartikan apa yang sesungguhnya aku rasakan. Aku masih terlalu kecil mengenal yang namanya cinta.
            Sedikit kabar bahagia, kelasnya ternyata tak jauh dari kelasku. Bahkan hanya terpisahkan oleh satu ruang kelas. Aku selalu menyambut istirahat sekolah dengan ceria, karena di saat seperti ini aku dapat melihatnya meski hanya lewat jendela kelasku.
Mencintainya dalam diam. Aku bisa apa??? Aku hanya wanita. Setahun berlalu aku hanya bisa memendam apa yang aku rasakan. Ya,,, hanya mencintainya dalam diam. Mampu melihatnya dari balik jendela saja aku sudah girangnya minta ampun. Apalagi kalau pas ada kesempatan berada di dekatnya, atau dia benar-benar nyata berada di hadapanku. Sering sekali waktu memberiku kesempatan berada di dekatnya, entah itu saling tabrakan kemudian dia memberiku senyum penyejukknya, atau berada dalam perpustakaan. Hal kecil, tetapi selalu bisa mmbuatku bahagia.
“ Mahendra gonta-ganti cewek terus. Lama-lama ilfeel juga ah sama dia. Masak sekarang dia pacaran sama Mbak Winda anak kelas 2A” celoteh Chasanah kepadaku.
Aku hanya membalasnya dengan senyuman. Meski hatiku berkecamuk, lari kesana kemari, jatuh, merintih, bahkan menjerit. Selama satu tahun aku berhasil menyembunyikan cinta ini, dari siapapun. Mungkin diary-diary ku lah yang menjadi saksi betapa besar rasaku terhadapnya.
“ Tih kok kamu diam aja, hayo sedang ngelamunin siapa?” tanya Chasanah tiba-tiba saat kami duduk di depan kelas istirahat pertama.
Aku gelagapan, seperti maling yang sedang kepergok saat beraksi.
            “ Eh,,, engg,,, enggak,,, aku nggak sedang ngelamunin siapa-siapa. Hehhee” jawabku sambil meringis.
Sejak tadi aku memang sedang memperhatikannya yang sedang kumpul-kumpul dengan temannya.
            “Hayoooo... Ratih liatin siapa???” eh teman-teman yang lain malah ikut-ikutan mendadak kepo.
            “Haha tuh liatin Bu Lina marahin anak-anak di sana” celotehku. Untung di kelas depan ada situasi yang sangat mendukung. :D
Tiba saat kelulusannya. Kalian tahu??? Aku sangat kehilangan dia. Tapi lagi-lagi hanya air matakulah yang bicara. Sehari tak bertemu dengannya saja aku sudah gundah gulana. Apalagi kini aku akan kehilangan dia. Kehilangan??? Kadang aku ingin menertawakan diriku sendiri. Kenapa aku harus merasa kehilangan, padahal aku tak pernah memiliki dia?. Aku bisa apa? Aku hanya cewek biasa yang tahu diri nggak akan mungkin bisa membuatnya tertarik sampai kiamatpun tiba.
Hari-hariku terasa kosong setelah tak ku dapati lagi kehadirannya. Semangat untuk pergi ke sokalahpun juga sudah tak menggebu-gebu seperti dulu.
“Dasar kau bodoh Ratih, dia siapa kamu??? Bisa-bisanya memberi dampak sebesar ini” pikiranku seperti mengutukiku sendiri. Tapi hatiku juga tak bisa memungkiri kalau aku sangat kehilangan dia. Dan ingin hari-hariku kembali seperti ketika dia masih ada. Karena hanya bisa melihat wajahnya saja sudah memberiku kebahagiaan yang luar biasa.
Hatiku terus mencari sosok itu, senyum itu dan tatapan itu. Seminggu, sebulan dan setahun telah berlalu, kini aku sudah mulai terbiasa tanpa keberadaannya. Hingga akhirnya aku mulai memasuki bangku SMA. Siapa sangga di sana aku menemukan kejutan besar dalam hidupku. Setahun berlalu aku sudah bisa sedikit membunuh perasaanku. Kini dia benar-benar nyata berdiri di hadapanku sebagai senior di SMA baruku. Air mataku hampir jatuh karena sudah tak mampu ku bendung lagi. Dia yang selama ini sangat aku rindu. Oh Tuhan aku tak menyangka bisa satu sekolahan lagi. Gumamku dalam hati. Senyumnya tak berubah, tatapannya pun masih sama seperti dulu. Kenapa aku bisa mengerti bagaimana cara ia menatap, karena dulu aku pernah bertabrakan dengannya hingga mata kami saling memandang. Ya,,, aku nggak salah. Ini mata yang dulu pernah menyejukkan hatiku. Bahkan dia juga masih sama seperti dulu menjadi idola di sekolah dan digandrungi banyak cewek.
“Rasa ini muncul lagi??? Kemarin aku mati-matian berusaha membunuh cinta ini, tapi setelah aku berhasil kenapa aku harus dipertemukan lagi? Apa ini kesempatan ke dua yang diberikan Tuhan sehingga aku bisa memilikinya? “. Pertanyaan ini semakin membuatku berkecamuk. Kenapa aku harus bertemu dengannya lagi?. Dia cinta pertamaku. Dia yang pertama kali membuatku mengerti apa itu cinta, apa itu rindu, dan apa itu kecewa.
“Dek ini punyamu?” tanya seseorang dari belakang tubuhku.
Ketika aku menoleh ke belakang kalian tahu siapa yang berdiri tepat di belakangku sekarang? Dia. Ya saat ini dia tepat berdiri di belakangku. Dengan debaran yang tak menentu ku balikkan tubuhku menghadap dia.
            “ Eh iy... iya mas...” jawabku tergagap.
Tuhan,,, dia tersenyum padaku... senyum yang selama ini aku cari-cari.
“ Ma,,, makasih ya mas...” kataku
Hari-hariku kini mulai berwarna lagi, setelah beberapa bulan badai datang menghancurkan senyumku. Kini aku mulai sering bertemu dengannya, ngobrol dengannya, karena kami berada dalam satu organisasi. Di sekolah aku iseng mengikuti kegiatan ekstrakulikuler PMR. Sebelumnya aku tak menyangka kalau dia anak PMR, karena setahuku dia menjadi anggota OSIS dan pramuka di sekolah. Mengikuti diklat adalah salah satu syarat agar aku bisa menjadi anggota PMR yang berlangsung selama 2 hari satu malam. Malam itu, saat deadline renungan malam dia ikut andil. Lagi-lagi senyumnya yang selalu membuatku mati kutu. Dari itulah aku tahu kalau dia juga mengikuti ekskul PMR. Lewat ekskul ini pula aku mulai dekat dengannya. Aku tak pernah berharap banyak dengan kedekatan ini, karena sampai sekarang belum ada tanda-anda kalau dia menyukaiku. Akupun sadar, seorang idola sekolah tak mungkin   menyukai gadis kuper dan cuek sepertiku ini. Meski tak sedikit dia mulai perhatian terhadapku. Ya wajar, mungkin karena kami berada dalam satu organisasi dan devisi. Tapi lama-lama aku mulai tersadar kalau sebenarnya dia sudah menganggapku sebagai teman baiknya.
Harapanku mulai buyar ketika aku tahu kalau sebenarnya Mahendra menyukai seseorang lain di organisasi ini. Siapa dia??? Dia adalah sahabatku sendiri, Ayu. Hancur??? Pasti. Tapi aku bisa apa, karena Ayu juga sama-sama menyukai Mahendra. Bahan Mahendra memintaku untuk nyomblangin mereka. Bisa dibayangkan bukan betapa dilemanya aku???.
“ Tih, please dong comblangin aku!!! Kamu kan dekat dengan Ayu.” Pintanya.
Aku hanya meringis menanggapinya.
            “ Loh ya cuma tersenyum,,, kamu mau apa dah akan aku kasih asal kan kamu mau nyomblangin aku dengan Ayu” Kata Mahendra membujuk.
            “ Ih apa sih kak, kakak ganteng,,, kakak coba dewh deketin sendiri, dia nggak bakal nolak kok” kataku.
Aku bahkan nggak butuh ice cream, coklat, atau boneka. Aku hanya butuh hatimu Ndra. Bukan iming-iming hadiah yang akan kamu berikan jika aku berhasil nyomblagin kalian. L
            “ Dia susah Tih,,, bakal nggak pernah nanggepin aku,,,” katanya lagi.
            “ Ah Cuma perasaan kakak mungkin.” Jawabku.
Maaf Ndra, bukannya aku nggak mau nyomblangin kalian. Karena aku nggak mau terlalu munafik dengan perasaanku sendiri. Aku hanya nggak kuat nantinya kalau harus nanggung penyesalan karena telah mempersatukan kalian. Mempersatukan kalian sama halnya melukai hatiku sendiri.
            Berada dalam satu organisasi ternyata tak membuatku bahagia, bukan karena organisasinya. Tetapi karena aku nggak kuat harus lama-lama memendam ini terus menerus, sedangkan dia selalu ada bersamaku. Akhirnya aku memutuskan untuk keluar dari organisasi ini. Awalnya dialah orang pertama yang tak mengijinkan aku untuk keluar, tetapi aku beralasan kalau aku ingin fokus belajar.
            “ Tih,,, please...” katanya meminta.
Aku hanya membalasnya dengan gelengan sedih.
            Setelah keluar dari organisasi, aku memang lebih menyibukkan diriku untuk belajar. Ini adalah alasan agar aku dapat menghindar dari dia. Meskipun kami hanya berteman, tetapi kami sudah seperti sahabat yang sangat dekat. Aku selalu mencoba agar tak bertemu dengannya, tak jarang pula dia mencariku. Dan kini aku sudah mulai terbiasa tanpanya.
Lama aku tak bertemu dengarnya, kini aku harus mendengar lagi kabar kalau dia ternyata sudah jadian dengan teman sekelasnya. Katanya hubungan mereka sangat langgeng dan romantis bahkan dengar-dengar mereka dinobatkan sebagai pasangan terserasi oleh anak-anak. Aku harus menerimanya dengan lapang, karena sampai kapanpun aku tersadar dia nggak mungkin jadi milikku. Pernah dekat dengannya meskipun hanya sebgai teman dekat sudah mampu membuatku tersenyum bahagia.
Sakit??? Tentu. Tapi inilah bukti bahwa aku sangat mencintainya. Aku ikhlas dia bahagia bersama cinta sejatinya. Menyesal??? Tentu saja tidak. Aku nggak pernah berpikiran menyesal karena telah mencintainya. Bahkan telah atuh cinta kepadanya untuk yang kedua kalinya, meskipun aku tahu dia nggak akan pernah menjadi milikku.
            Membaca lembar demi lembar diary yang dulu pernah ku tulis ini membuatku tersenyum, namun ternyata masih ada sedikit rasa sesak yang bergeming di hatiku. Kini apa kabar kamu??? Aku tersenyum saat menutup diary mungilku yang bersampul warna pink ini. Terima kasih ya sudah pernah memberi warna dalam hidupku. Aku masih berharap kelak kita dapat dipertemukan kembali. Namun dalam kondisi masing-masing dari kita sudah memiliki keluarga kecil. J

The End

Selasa, 10 Maret 2015

Biar Ku Lukis Bayangmu



Ijinkan aku melukis bayangmu
Karena aku tak pernah tahu 
apakah dirimu akan selalu di sampingku
Semua mungkin akan sirna
Tapi ku ingin waktu memberiku kesempatan untuk selalu bersamamu
            Tak banyak yang ku ingin
            Hanya sekedar bersamamu hingga penghujung usiaku
            Walau kau hanya tersimpan di relung terdalamku
            Tapi ketahuilah senyummu tak pernah pudar
Suatu masa telah mempetemukan kita
Meski ku tahu masa lah yang kelak juga akan memisahkan kita
            Ada satu yang selalu ku rindu
            Kehangatan cinta kita saat bersama
            Bau harum tubuhmu
            Deru nafasmu
            Bahkan detak jantngmu
Semua bisa ku rasa
Kini dan selamanya

                       
                                                                                    11 Maret 2015

                                                                                    AK

Minggu, 18 Januari 2015

Puisi pertama di tahun 2015


Tuhan yakinkan aku,,,
Apakah hati ini berbohong???
Tapi aku tak bisa mengelak,,,
Kalau aku ragu,,
Jangan biarkan ragu ini terus menggergoti kepercayaanku
Yang ku tahu dia mencintaiku
Yang ku tahu dia selalu merinduku
Tapi kenapa hati ini terus berbisik meragunya,,,
Cinta ini sudah besar  untuknya
Bahkan rindu ini selalu ada untuk selalu ingin melihat senyumnya,,,
                Tuhan yakinkan aku bahwa dia benarbenar mencintaiku
                Bahwa rindu itu nyata selalu untukku
                Aku tak ingin kehilangan dia
                Aku tak ingin berpisah darinya
                Jangan ambil dia dariku
                Buatlah aku mencintainya karenaMu
Buatlah dia mencintaiku karenaMu jua
Tuhan sampaikan semua ini padanya
Katakan padanya aku selalu merindunya
Jangan biarkan angin membawanya pergi
Jangan biarkan malam menelan cahaya terangnya
Katakan padanya cinta ini takkan luntur meski hujan berkali-kali menetesinya
Cinta ini akan selalu ada
Meski kecewa sering kali menghiasinya
Cinta ini tak akan pudar
Meski termakan oleh arak dan waktu yang sering memisahkan